Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert
Maksud dari kalimat tersebut di atas adalah sebagai seorang guru atau pendidik, tidak ada salahnya jika mengajari anak-anak secara akademik akan tetapi akan jauh lebih baik lagi jika sebagai seorang pendidik senantiasa mengajarkan nilai-nilai kebaikan yang menjadi bekal mereka kelak memaknai suatu nilai bukan saja berdasarkan substansi tetapi berdasarkan moral kebaikan.
Dewasa ini kita sangat memahami bahwa perkembangan di era digital sangat pesat, sehingga memudahkan kita dalam segala hal. Akan tetapi kita pun menyadari bahwa dampak negatif dari perkembangan pada zaman ini juga terbilang sangat berbahaya bagi perkembangan para murid. Banyak kejadian-kejadian yang terjadi di luar nalar kita, bahkan terkikisnya nilai-nilai kemanusian juga nampak jelas terjadi. Dengan begitu, sebagai seorang pemimpin dalam pembelajaran kita harus berjuang untuk melakukan hal-hal terbaik yang dapat kita lakukan. Sebut saja dalam pengambilan sebuah keputusan, suatu keniscayaan bahwa apa yang kita putuskan nantinya sangat berdampak bagi masa depan para murid di sekolah.
Dalam pandangan filosofi Pratap Triloka dari Ki Hajar Dewantara, yaitu:
- Ing Ngarso Sun Tulodho, yang berarti di depan (pimpinan) harus memberi teladan.
- Ing Madyo Mangun Karso, yang bermakna di tengah memberi bimbingan.
- Tut Wuri Handayani, yang mengandung arti di belakang memberi dorongan.
Ketiganya merupakan peran pendidikan. Ketika berada di depan sebagai seorang pemimpin, ia mampu memancarkan aura kepemimpinan yang memberi suri tauladan. Membagikan keutamaan diri yang bersumber dari pengolahan dan refleksi yang secara sistematis. Pada saatnya berada di tengah-tengah orang lain, ia mesti mampu menggelorakan semangat demi perubahan yang lebih baik. Ketika berada di belakang sebagai pengayom/penasehat, ia mampu menggerakkan orang-orang di depannya supaya kehendak tetap menggelora dan keteladanan tetap berjalan. Hal tersebut merupakan sejalan dengan tugas Guru sebagai pemimpin dalam pembelajaran, sehingga nantinya mampu menentukan suatu keputusan yang terbaik bagi para muridnya. Dalam proses ‘menuntun’ anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar.
Pendidikan adalah tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan. Dengan maksud agar segala unsur peradaban dan kebudayaan tadi dapat tumbuh dengan sebaik-baiknya.Dan dapat kita teruskan kepada anak cucu kita yang akan datang.
~ Ki Hajar Dewantara
Manusia harus menyadari bahwa dirinya memiliki landasan moralitas yang menuntun manusia dalam bertindak, yaitu fitrah, hati nurani dan kerja kemanusiaan. Fitrah mengacu pada kecenderungan manusia pada kebenaran, kebaikan dan keindahan. Fitrah ini merupakan bentuk keseluruhan tentang diri manusia yang secara asasi dan prinsipil membedakannya dari makhluk lainnya. Hati nurani ialah pemancaran keinginan kepada kebenaran, kebaikan dan keindahan. Dengan memenuhi hati nurani, seseorang berada dalam fitrahnya dan menjadi manusia sejati. Hal itu akan dinilai bermakna atau berarti jika diekspresikan dalam kerja-kerja kemanusiaan.
Lumpkin (2008), menyatakan bahwa guru dengan karakter baik mengajarkan murid mereka tentang bagaimana keputusan dibuat melalui proses pertimbangan moral. Guru ini membantu muridnya memahami nilai-nilai kebaikan dalam diri mereka sendiri, kemudian mereka memercayainya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari siapa mereka, hingga kemudian mereka terus menghidupinya. Guru dengan karakter yang baik melestarikan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat melalui murid-murid mereka.
Dalam mengkritisi suatu pengambilan keputusan atau membuat suatu keputusan yang kreatif, inovatif dan efisien sebagai seorang pemimpin pembelajaran maka sangat penting bagi kita untuk mempraktikan aspek-aspek apa saja yang perlu di lakukan atau diperhatikan sebelum dan sesudah pengambilan suatu keputusan. Dari pengalaman dan latar belakang tempat kita bekerja apalagi di institusi pendidikan maka kita sudah mengetahui dilemma etika adalah sebuah kasus yang sangat berat yang sering kita hadapi dari setiap kejadian. Ketika Dilema Etika datang dan harus kita hadapi maka kita akan selalu ada nilai-nilai kebajikan yang mendasarinya namun bertentangan dengan cinta, kasih sayang, perhatian, kebenaran, kebebasan, keadilan, persatuan, toleransi, tanggungjawab serta suatu penghargaan akan kehidupan. Disamping itu kita sebagai pemimpin pembelajaran harus menyadari bahwa untuk unsure-unsur tersebut tidak ada aturan baku yang berlaku untuk memutuskan situasi dilemma etika karena ini bersifat relative dan bergantung pada situasi dan kondisi terjadinya suatu kejadian. Artinya ada benarnya kita tetap berpegang pada aturan yang berlaku untuk menentukan kebenaran namun ada kalanya kita tidak bisa berpegang pada aturan karena situasi tertentu. ( Rukiyanti L Andriyani.haryatmoko. Etiaka Pendidikan:43 ) Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral. Akal dan moral dua dimensi manusia yang saling berkaitan. Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral. Demikian pula sebaliknya ketika dihadapi pada situasi bujukan moral (Benar vs salah) artinya adalah segala sesuatu yang kita lakukan sengaja ataupun tidak sengaja jika itu salah dengan alasan baik apapun tentang kejadian tersebut maka tetap saja bernilai salah, walaupun tujuannya untuk kebaikkan tetap saja bernilai salah. Ketika kita menghadapi situasi dilema etika akan ada nilai-nilai kebijakan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang , kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup. Secara umum ada pola,model dalam pengambilan keputusan yag efektif 4 paradigma, 3 prinsip –prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan (4 – 3 - 9 ) yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti dibawah ini:
1. Individu lawan masyarakat ( individual vs community )
Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. Bisa juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil melawan kelompok besar. “Individu” di dalam paradigma ini tidak selalu berarti “satu orang”. Ini juga dapat berarti kelompok kecil dalam hubungannya dengan kelompok yang lebih besar. Seperti juga “kelompok” dalam paradigma ini dapat berarti kelompok yang lebih besar lagi. Itu dapat berarti kelompok masyarakat kota yang sesungguhnya, tapi juga bisa berarti kelompok sekolah, sebuah kelompok keluarga, atau keluarga Anda. Dilema individu melawan masyarakat adalah bagaimana membuat pilihan antara apa yang benar untuk satu orang atau kelompok kecil , dan apa yang benar untuk yang lain, kelompok yang lebih besar. Guru kadang harus membuat pilihan seperti ini di dalam kelas. Bila satu kelompok membutuhkan waktu yang lebih banyak pada sebuah tugas, tapi kelompok yang lain sudah siap untuk ke pelajaran berikutnya, apakah pilihan benar yang harus dibuat? Guru mungkin menghadapi dilema individu lawan kelompok
2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan ( justice vs mercy )
Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain. Kadang memang benar untuk memegang peraturan, tapi terkadang membuat pengecualian juga merupakan tindakan yang benar. Pilihan untuk menuruti peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa hormat terhadap keadilan (atau sama rata). Pilihan untuk membengkokkan peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa kasihan (kebaikan)
3. Kebenaran lawan kesetian ( truth vs loyalty )
Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.
4. Jangka pendek lawan jangka panjang ( short term vs long term )
Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi di level personal dan permasalahan sehari-hari, atau pada level yang lebih luas, misalnya pada issue-issue dunia secara global, misalnya lingkungan hidup dll.
Rukiyanti L Andriyani.haryatmoko. Etiaka Pendidikan:43 Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral. Akal dan moral dua dimensi manusia yang saling berkaitan. Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral. Etika tentunya bersifat relatif dan bergantung pada kondisi dan situasi, dan tidak ada aturan baku yang berlaku. Tentunya ada prinsip-prinsip yang lain, namun ketiga prinsip di sini adalah yang paling sering dikenali dan digunakan. Dalam seminar-seminar, ketiga prinsip ini yang seringkali membantu dalam menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan, yang harus dihadapi pada dunia saat ini. (Kidder, 2009, hal 144). Ketiga prinsip tersebut adalah:
1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
Pe Pemikiran berbasis akhir sering kali dicirikan sebagai "lakukan yang terbaik untuk orang sebanyak-banyaknya". Juga dikenal sebagai utilitarianisme dalam filsafat, ini didasarkan pada gagasan bahwa benar dan salah paling baikditentukan dengan mempertimbangkan konsekuensi atau hasil dari suatu tindakan. Dimana priaku manusia dianggap baik jika menghasilkan manfaat bagi masyarakat dan buruk jika menimbulkan kerugian bagi masyarakat, disini menekankan pada hasil tindakan individu dan bukan maksud individu.
2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
Pemikiran berbasis aturan konsisten dengan filosofi Kant dan dapat dikategorikan dalam bahasa sehari-hari sebagai "mengikuti prinsip atau tugas tertinggi". Ini ditentukan bukan oleh proyeksi apa pun tentang hasil dari suatu tindakan, melainkan dengan menentukan jenis standar yang harus dipegang setiap orang sepanjang waktu, apa pun situasinya. Dalam kata-kata Kant, "Aku tidak boleh bertindak kecuali sedemikian rupa sehingga aku juga bisa menghendaki pepatahku menjadi hukum universal." Meskipun prinsipnya tinggi hati, itu bisa secara paradoks memperkecil peran yang dimainkan penilaian manusia dalampengambilan keputusan etis dengan menyerahkan semua tindakan pada komitmen yang kaku dan tidak masuk akal pada aturan tanpa pertimbangan konteks spesifikdari suatu keputusan. Menekankan pada tugas individu. Nilai dan moral pada tindakan individu harus dinilai berdasarkan iat orang tersebut bukan akibat tindakan tersebut bahwa niat baik selalu menghasilkan yang baik pula.
3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
Kita diminta untuk merenungkan perilaku yang diusulkan seolah-olah kita adalah objeknya dan bukan agennya, dan untuk mengkonsultasikan perasaan kita sebagai panduan untuk menentukan jalan terbaik.Penting untuk ditekankan bahwa Kidder tidak menyarankan salah satu dari prinsip-prinsip ini yang selalu terbaik. Sebaliknya, ia mengusulkan bahwa akan menjadi praktik yang bijaksana ketika mempertimbangkan kebenaran suatu tindakan untuk meminta mereka semua mencapai keputusan hanya setelah menerapkan masing-masing pada keadaan tertentu yang dihadapi seseorang dan menimbang analisis kolektif. Sebuah sikap keberpihakan kita untuk melibatkan diri dari persoalan, keadaan atau kondisi yang terjadi disekitar kita, mereka yang terpanggil untuk melakukan suatu dalam hal memberi inspirasi, pemahaman, kebaikan kepada lingkungan sekitar kita. Dimana manusia mempnyai kewajiban peduli terhadap orang-orang yang memiliki hubungan dekat atau peduli terhadap kita.
Berikut adalah 9 langkah pengembilan keputusan :
1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.
Ada 2 alasan mengapa langkah ini adalah langkah yang penting dalam pengujian keputusan. Alasan yang pertama, langkah ini mengharuskan kita untuk mengidentifikasi masalah yang perlu diperhatikan, alih-alih langsung mengambil keputusan tanpa menilainya dengan lebih saksama. Alasan yang kedua adalah karena langkah ini akan membuat kita menyaring masalah yang betul-betul berhubungan dengan aspek moral, bukan masalah yang berhubungan dengan sopan santun dan norma sosial. Untuk mengenali hal ini bukanlah hal yang mudah. Kalau kita terlalu berlebihan dalam menerapkan langkah ini, dapat membuat kita menjadi orang yang terlalu mendewakan aspek moral, sehingga kita akan mempermasalahkan setiap kesalahan yang paling kecil pun. Sebaliknya bila kita terlalu permisif, maka kita bisa menjadi apatis dan tidak bisa mengenali aspek-aspek permasalahan etika lagi.
2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.
Bila kita telah mengenali bahwa ada masalah moral di situasi tertentu. Pertanyaannya adalah dilema siapakah ini? Hal yang seharusnya membedakan bukanlah pertanyaan apakah ini dilema saya atau bukan. Karena dalam hubungannya dengan permasalahan moral, kita semua seharusnya merasa terpanggil
3. Fakta yang relevan dalam situasi ini.
Pengambilan keputusan yang baik membutuhkan data yang lengkap dan detail, seperti misalnya apa yang terjadi di awal situasi tersebut, bagaimana hal itu terkuak, dan apa yang akhirnya terjadi, siapa berkata apa pada siapa, kapan mereka mengatakannya. Data-data tersebut penting untuk kita ketahui karena dilema etika tidak menyangkut hal-hal yang bersifat teori, namun ada faktor-faktor pendorong dan penarik yang nyata di mana data yang mendetail akan bisa menggambarkan alasan seseorang melakukan sesuatu dan kepribadian seseorang akan tercermin dalam situasi tersebut. Hal yang juga penting di sini adalah analisis terhadap hal-hal apa saja yang potensial akan terjadi di waktu yang akan datang.
4. Pengujian benar atau salah
· Uji Legal
Pertanyaan yang harus diajukan disini adalah apakah dilema etika itu menyangkut aspek pelanggaran hukum. Bila jawabannya adalah iya, maka pilihan yang ada bukanlah antara benar lawan benar, namun antara benar lawan salah. Pilihannya menjadi membuat keputusan yang mematuhi hukum atau tidak, bukannya keputusan yang berhubungan dengan moral.
· Uji Regulasi/Standar Profesional
Bila dilema etika tidak memiliki aspek pelanggaran hukum di dalamnya, mungkin ada pelanggaran peraturan atau kode etik. Konflik yang terjadi pada seorang wartawan yang harus melindungi sumber beritanya, seorang agen real estate yang tahu bahwa seorang calon pembeli potensial sebelumnya telah dihubungi oleh koleganya? Anda tidak bisa dihukum karena melanggar kode etik profesi Anda, tapi Anda akan kehilangan respek sehubungan dengan profesi Anda.
· Uji Intuisi
Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi Anda dalam merasakan apakah ada yang salah dengan situasi ini. Apakah tindakan ini mengandung hal-hal yang akan membuat Anda merasa dicurigai. Uji intuisi ini akan mempertanyakan apakah tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai yang Anda yakini. Walaupun mungkin Anda tidak bisa dengan jelas dan langsung menunjuk permasalahannya ada di mana. Langkah ini, untuk banyak orang, sangat umum dan bisa diandalkan untuk melihat dilema etika yang melibatkan dua nilai yang sama-sama benar.
· Uji Halaman Depan Koran
Apa yang Anda akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan pada halaman depan dari koran dan sesuatu yang Anda anggap merupakan ranah pribadi Anda tiba-tiba menjadi konsumsi masyarakat? Bila Anda merasa tidak nyaman membayangkan hal itu akan terjadi, kemungkinan besar Anda sedang menghadapi dilema etika.
· Uji Panutan/Idola
Dalam langkah ini, Anda akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh seseorang yang merupakan panutan Anda, misalnya ibu Anda. Tentunya di sini fokusnya bukanlah pada ibu Anda, namun keputusan apa yang kira-kira akan beliau ambil, karena beliau adalah orang yang menyayangi Anda dan orang yang sangat berarti bagi Anda.
5. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.
Dari keempat paradigma, identifikasi paradigma mana yang terjadi di situasi ini? Apa pentingnya mengidentifikasi paradigma, ini bukan hanya mengelompokkan permasalahan namun membawa penajaman pada fokus kenyataan bahwa situasi ini betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.
6. Melakukan Prinsip Resolusi
Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai?
7. Investigasi Opsi Trilema
Mencari opsi yang ada di antara 2 opsi. Apakah ada cara untuk berkompromi dalam situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah.
8. Buat Keputusan
Akhirnya kita akan sampai pada titik di mana kita harus membuat keputusan yang membutuhkan keberanian secara moral untuk melakukannya.
9. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan
Ketika keputusan sudah diambil. Lihat kembali proses pengambilan keputusan dan ambil pelajarannya untuk dijadikan acuan bagi kasus-kasus selanjutnya
Kita semua memahami jika murid kita bukanlah kertas kosong. Mereka datang dengan berbagai latar belakang, kemampuan, dan potensi. Tugas Anda adalah menjadikan latar belakang mereka sebagai pondasi kuat bagi Anda dalam memimpin pembelajaran. Selain itu, Anda juga bertugas meningkatkan kemampuan dan melejitkan potensi mereka. Oleh karena itu, Kita sebagai guru diharapkan memiliki keterampilan yang dapat mengarahkan anak didik untuk menemukan jati diri dan melejitkan potensi mereka.
Salah satu keterampilan yang diperlukan adalah keterampilan coaching. Mengapa keterampilan coaching? Coaching diperlukan karena murid kita adalah sosok merdeka. Sosok yang dapat menentukan arah dan tujuan pembelajarannya, serta meningkatkan potensinya sendiri. Mereka hanya memerlukan dorongan dan arahan dari Guru sebagai pemimpin pembelajaran untuk melejitkan potensi mereka. Tentunya ini bukan hal yang mudah karena sebagai pemimpin pembelajaran terkadang kita tergoda untuk berupaya membantu permasalahan murid secara langsung dengan memberikan solusi dan nasehat. Dengan keterampilan coaching, harapannya anak didik kita menjadi lebih terarah dan dapat menyelesaikan masalahnya sendiri yang pada akhirnya dapat meningkatkan potensi mereka.
Peran seorang coach (pendidik) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Dalam proses coaching, murid diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya.
Guru sebaiknya memiliki kecakapan memimpin, artinya dapat mempengaruhi, mengarahkan, membimbing, memotivatasi siswa agar dapat belajar dengan target prestasi tertinggi. Siswa belajar tanpa merasa diperintah.Mengajar merupakan serangkaian proses pendidikan untuk membantu siswa lebih memahami dan menguasai sesuatu. Guru mendorong siswa terus belajar bagaimana seharusnya belajar yang efektif. Guru meningkatkan kewirausahaan belajar siswa.Guru dalam kelas berperan sebagai pemimpin. Tugasnya adalah mempengaruhi siswa melalui pengembangan organization of learning atau pengorganisasian pembelajaran. Sukses pembelajaran bergantung pada kemampuan guru memimpin dan mengorganisasikan pembelajaran dalam kelas sehingga dapat mewujudkan produk belajar sesuai dengan tujuan. Mengajar memerlukan dukungan suasana yang kondusif dan proses yang baik untuk mengembangkan pengalaman siswa sehingga menjadi pengalaman yang produktif dalam interaksi sosial yang efektif. Guru dalam proses ini berfungsi sebagai pemimpin. Suasana belajar memberikan ruang yang luas untuk berkreasi karena hati dan pikiran murid yang terbuka.
Salah satu tugas terberat seorang pemimpin adalah mengambil suatu keputusan yang efektif. Keputusan-keputusan ini, secara langsung atau tidak langsung bisa menentukan arah dan tujuan institusi atau lembaga yang dipimpin Anda, yang tentunya berdampak kepada mutu pendidikan yang didapatkan murid-murid Anda sekalian. Di sini kita akan membahas secara mendalam, baik itu berupa refleksi pribadi ataupun mengkritisi suatu pengambilan keputusan atau membuat suatu keputusan yang kreatif. Kegiatan-kegiatan ini pun tentu bisa berupa tugas mandiri atau tugas kelompok, selanjutnya Anda akan diminta untuk mempraktikkan aspek-aspek apa saja perlu dilakukan atau diperhatikan sebelum dan sesudah pengambilan suatu keputusan dibuat. Namun, perlu kita ketahui bahwa tidak semua keputusan sulit tersebut merupakan dilema etika. Ada kalanya itu lebih berupa bujukan moral. Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral. Akal dan moral dua dimensi manusia yang saling berkaitan. Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral. (Rukiyanti, L. Andriyani, Haryatmoko, Etika Pendidikan, hal. 43).
Karsa merupakan suatu unsur yang tidak terpisahkan dari perilaku manusia. Karsa ini pun berhubungan dengan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang dianut oleh seseorang, disadari atau pun tidak. Nilai-nilai atau prinsip-prinsip inilah yang mendasari pemikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan yang mengandung unsur dilema etika.
Kesimpulan
Guru memiliki tugas mulia yaitu menuntun atau mengarahkan, dan mendampingi para murid hinggga mereka menemukan potensi terbaik yang mereka miliki. Berbagai cara agar tujuan mulia tersebut terwujud,misalnya proses pembelajaran berdiferensiasi, Kompetensi sosial emosional, Coaching serta salah satunya adalah tugas kita sebagai seorang pemimpin dalam pembelajaran yaitu menentukan suatu keputusan. Hal tersebut dilakukan semata-mata untuk mencapai suatu profil pelajar pancasila, yang mana para murid dapat mencapai kemerdekaan belajarnya. Sukses pembelajaran bergantung pada kemampuan guru memimpin dan mengorganisasikan pembelajaran dalam kelas sehingga dapat mewujudkan produk belajar sesuai dengan tujuan. Mengajar memerlukan dukungan suasana yang kondusif dan proses yang baik untuk mengembangkan pengalaman siswa sehingga menjadi pengalaman yang produktif dalam interaksi sosial yang efektif. Guru dalam proses ini berfungsi sebagai pemimpin. Suasana belajar memberikan ruang yang luas untuk berkreasi karena hati dan pikiran siswa yang terbuka. . Keberhasilan seorang pemimpin dalam mengemban tugas tersulit, yaitu dengan mengambil suatu keputusan yang efektif. Keputusan keputusan ini secara langsung atau tidak langsung bisa menentukan arah dan tujuan institusi atau lembaga pendidikan berdampak kepada mutu pendidikan Pengambilan keputusan yang tepat dalam pemimpin pembelajaran adalah pengambilan keputusan yang mampu menyeimbangkan antara dua pihak atau antara dua opsi yang ada dengan pilihan yang tepat dan benar tidak merugikan salah satunya. Dalam mengkritisi suatu pengambilan keputusan atau membuat suatu keputusan yang kreatif, inovatif dan efisien sebagai seorang pemimpin pembelajaran maka sangat penting bagi kita untuk mempraktikan aspek-aspek apa saja yang perlu di lakukan atau diperhatikan sebelum dan sesudah pengambilan suatu keputusan.
Luar biasa bu guru, ilmu baru lagi..... tetap semangat
BalasHapusIlmu yang sangat bermanfaat
BalasHapusSelalu menebar kebaikan untuk peserta didik
Semangat dalam memajukan pendidikan Indonesia
Luar Biasa. Pemaparan yg bagus bisa menjadi bhan untuk memajukan pendidikan
BalasHapusMasya Allah..semangat terus bu Guru..semoga ilmu yg dibagikan dapat memajukan pendidikan Indonesia
BalasHapusTulisan yang luar biasa, sangat memotivasi
BalasHapus